Beranda / RAGAM / SENI DAN BUDAYA / Keduk Beji Tawun, Tradisi Warga Ngawi Jaga Sumber Air dan Lestarikan Budaya

Keduk Beji Tawun, Tradisi Warga Ngawi Jaga Sumber Air dan Lestarikan Budaya

Warga mengikuti Tradisi Keduk Beji dengan membersihkan sumber air di kawasan Taman Wisata Tawun, Ngawi. (Dok.JurnalMediaNusa)

Ngawi (JurnalMediaNusa) — Masyarakat Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, kembali menggelar tradisi Keduk Beji. Tradisi tahunan ini menjadi bentuk kepedulian warga dalam menjaga kelestarian sumber air sekaligus mempertahankan warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Keduk Beji berlangsung di kawasan sumber air sekitar Taman Wisata Tawun. Warga bergotong royong membersihkan sendang yang selama ini menjadi bagian penting bagi kehidupan masyarakat setempat.

Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko mengatakan Keduk Beji tidak sekadar menjadi kegiatan membersihkan sumber air. Tradisi tersebut juga memiliki nilai budaya sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.

“Tradisi ini tidak hanya membersihkan sendang atau sumber air, namun juga sebagai salah satu adat budaya masyarakat yang secara turun-temurun terus dilestarikan,” kata Dwi Rianto Jatmiko.

Menurutnya, masyarakat melalui tradisi tersebut ikut menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus mengungkapkan rasa syukur atas keberadaan sumber air yang memberikan manfaat bagi kehidupan.

“Secara prinsip kegiatan ini juga untuk menjaga keseimbangan terhadap lingkungan hidup dan alam serta wujud syukur atas berkah dari sumber air tersebut yang memberikan kehidupan bagi masyarakat,” ujarnya.

Pemkab Ngawi, lanjut Dwi, terus mendukung berbagai kegiatan budaya yang tumbuh di tengah masyarakat. Dukungan itu melibatkan perangkat daerah terkait, termasuk Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Keduk Beji juga memiliki nilai strategis bagi pengembangan wisata budaya. Pasalnya, tradisi tersebut berlangsung di kawasan Taman Wisata Tawun sehingga dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan sekaligus memperkenalkan budaya lokal Ngawi kepada masyarakat luas.

Dwi menilai pelaksanaan tradisi secara bersama-sama juga memperkuat semangat gotong royong dan kerukunan warga.

“Pelaksanaan tradisi di lingkungan masyarakat sebagai bentuk implementasi gotong royong dan guyub rukun. Sehingga hal ini harus terus dilestarikan,” tutur Dwi.

Selain Keduk Beji, Taman Wisata Tawun memiliki agenda budaya lain berupa Pasar Jadoel yang digelar setiap Ahad Legi. Kegiatan tersebut menarik pengunjung tidak hanya dari Ngawi, tetapi juga dari sejumlah daerah sekitar, seperti Madiun, Magetan, Bojonegoro hingga Solo.

Jumlah kunjungan wisatawan pun meningkat ketika agenda budaya tersebut berlangsung. Pada hari biasa, Taman Wisata Tawun dikunjungi sekitar 200 hingga 400 orang. Namun, jumlahnya dapat mencapai sekitar 3.000 pengunjung saat Pasar Jadoel Ahad Legi maupun momentum Tradisi Keduk Beji.

Antusiasme warga mengikuti seluruh rangkaian Keduk Beji juga terlihat tinggi. Tradisi kemudian ditutup dengan acara berebut tumpeng yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan dan dimaknai masyarakat sebagai simbol keberkahan.

Keduk Beji menunjukkan bahwa pelestarian sumber air dan budaya dapat berjalan beriringan. Di tengah perkembangan zaman, masyarakat Desa Tawun tetap mempertahankan gotong royong, rasa syukur, serta tradisi yang menjadi bagian dari identitas lokal. (And)

Like and Share
Tag: