Pedagang menunjukkan stok kemasan plastik di kios Pasar Besar Ngawi yang mengalami kenaikan harga signifikan akibat terganggunya pasokan bahan baku. (Dok.JurnalMediaNusa)
Ngawi (JurnalMediaNusa) — Harga kemasan berbahan plastik di Kabupaten Ngawi melonjak tajam dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan ini dipicu dampak konflik di kawasan Timur Tengah yang mengganggu rantai pasokan bahan baku plastik global.
Di sisi lain, sejumlah kios di Pasar Besar Ngawi mencatat harga plastik murni naik hingga dua kali lipat. Dari kisaran Rp30 ribu per kilogram, harga kini menembus Rp60 ribu per kilogram. Lonjakan tersebut mulai terjadi sejak awal Ramadan dan berlanjut hingga pasca-Lebaran.
Pemilik kios plastik, Slamet, mengatakan kelangkaan biji plastik di tingkat produsen menjadi penyebab utama kenaikan harga. Selain itu, distribusi yang tersendat turut memperburuk kondisi di lapangan.
“Sejak awal Ramadan harga terus naik, sekarang stok juga terbatas. Barang dari pabrik susah didapat,” ujarnya.
Sementara itu, harga plastik daur ulang juga ikut meningkat meski tidak sebesar plastik murni. Sebelumnya berada di kisaran Rp22 ribu hingga Rp24 ribu per kilogram, kini naik menjadi sekitar Rp27 ribu per kilogram.
Tak hanya bahan baku, kenaikan juga merambah produk turunan. Misalnya, gelas plastik ukuran 22 oz yang sebelumnya dijual Rp13 ribu per kemasan, kini melonjak menjadi Rp22 ribu per kemasan.
Lebih lanjut, Slamet menegaskan terbatasnya pasokan dari produsen menjadi faktor dominan yang mendorong kenaikan harga berbagai jenis kemasan plastik di pasaran.
Akibatnya, kondisi ini berdampak langsung pada pedagang dan pelaku usaha kecil yang bergantung pada kemasan plastik. Daya beli masyarakat pun ikut tertekan seiring kenaikan harga.
Sejumlah pedagang mengaku omzet mereka menurun sejak harga plastik melonjak. Mereka berharap pasokan segera pulih agar harga kembali stabil dan aktivitas usaha dapat berjalan normal. (And)










