Sejumlah Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Ngawi duduk lesehan bersama keluarga saat menikmati momen buka puasa bersama di area lapas, Kamis (12/3/2026). (Dok.JurnalMediaNusa)
Ngawi (JurnalMediaNusa) – Suasana berbeda terasa di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Ngawi pada Ramadan tahun ini. Di balik tembok tinggi dan jeruji besi, puluhan warga binaan mendapat kesempatan langka untuk berbuka puasa bersama keluarga setelah pihak lapas memperpanjang jam kunjungan, Kamis (12/3/2026).
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya Lapas Ngawi menghadirkan pendekatan pemasyarakatan yang lebih humanis. Melalui perpanjangan waktu kunjungan, warga binaan dapat melepas rindu sekaligus merasakan kehangatan keluarga saat momen berbuka puasa.
Sebanyak 62 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) menerima kunjungan keluarga pada kegiatan tersebut. Meski suasana berlangsung hangat, petugas tetap menjalankan prosedur keamanan secara ketat sejak awal kunjungan.
Petugas memulai proses dari pendaftaran di Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP). Selanjutnya, petugas memeriksa identitas pengunjung, barang bawaan, hingga melakukan pemeriksaan badan sebelum mengizinkan keluarga memasuki ruang pertemuan.
Di ruangan tersebut, warga binaan tampak duduk berdampingan dengan anggota keluarga sambil menikmati hidangan berbuka. Sebagian membawa makanan dari rumah, sementara pihak lapas juga menyediakan jatah makan sore bagi warga binaan.

Momentum berbuka puasa ini tidak sekadar menjadi kegiatan makan bersama. Lebih dari itu, pertemuan tersebut menjadi sarana memperkuat dukungan emosional bagi warga binaan yang tengah menjalani masa pidana.
Kepala Seksi Bimbingan Narapidana/Anak Didik dan Kegiatan Kerja (Binadik dan Giatja) Lapas Ngawi, Devy Puji Astuti, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut sengaja digelar untuk menjaga kesehatan mental warga binaan selama Ramadan.
“Biasanya memang ada jadwal besukan rutin. Namun khusus di bulan puasa, kami memperpanjang waktu kunjungan sampai waktu berbuka. Ini menjadi momen yang jarang karena hanya dilaksanakan selama Ramadan untuk memfasilitasi kerinduan mereka terhadap keluarga,” jelas Devy.
Ia menambahkan, dukungan keluarga memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas psikologis warga binaan. Dengan bertemu langsung, warga binaan dapat menjalani masa pembinaan dengan lebih tenang dan termotivasi untuk memperbaiki diri.
Melalui kegiatan tersebut, Lapas Ngawi berharap proses pembinaan tidak hanya berfokus pada aspek hukum, tetapi juga memperhatikan sisi kemanusiaan sehingga warga binaan memiliki semangat baru sebelum kembali ke masyarakat. (Saa)









