Beranda / FASHION / Lebih dari Sekadar Tren, Fashion Masa Kini Jadi Medium Menemukan Jati Diri

Lebih dari Sekadar Tren, Fashion Masa Kini Jadi Medium Menemukan Jati Diri

Generasi muda tampil percaya diri mengenakan busana wastra nusantara dengan sentuhan modern. Dengan memadukan gaya kasual dan ramah lingkungan sebagai cerminan tren fashion masa kini yang berkelanjutan. (Dok.JurnalMediaNusa)

Jakarta (JurnalMediaNusa) – Dunia fashion kini tidak lagi sekadar membahas apa yang tampil di panggung catwalk Paris atau Milan. Saat ini, di sudut-sudut kedai kopi hingga trotoar ibu kota, fashion masa kini berkembang menjadi bahasa komunikasi paling jujur bagi generasi muda. Busana tak lagi hanya berfungsi sebagai penutup tubuh, melainkan hadir sebagai pernyataan sikap dan sarana ekspresi identitas tanpa batas.

Fenomena tersebut terlihat dari percampuran gaya yang semakin berani dan inklusif. Mulai dari kembalinya estetika retro era 1990-an, pemanfaatan kain wastra nusantara dalam desain modern, hingga dominasi gaya streetwear yang mengedepankan kenyamanan. Dengan demikian, fashion masa kini perlahan meruntuhkan sekat antara gaya formal dan kasual.

Kenyamanan dan Keberlanjutan Jadi Pilar Utama

Berbeda dengan dekade sebelumnya yang kerap mengagungkan “keindahan yang menyiksa”, tren fashion saat ini justru menempatkan kenyamanan sebagai prioritas. Para desainer kini aktif menggunakan material ramah lingkungan serta menghadirkan potongan busana yang inklusif bagi berbagai bentuk tubuh.

Selain itu, kesadaran konsumen terhadap sustainable fashion atau mode berkelanjutan terus meningkat. Banyak masyarakat mulai mempertanyakan asal-usul pakaian yang mereka kenakan, termasuk proses produksi dan kesejahteraan para pekerja. Kondisi ini mendorong peralihan minat ke brand lokal yang menjunjung etika kerja, sekaligus mengurangi praktik konsumerisme berlebihan.

Pengamat: Fashion Alami Revolusi Ekspresi Diri

Perubahan pola konsumsi dan gaya berbusana tersebut menarik perhatian para pengamat mode. Mereka menilai tren fashion masa kini semakin demokratis karena tidak lagi didominasi satu rumah mode besar. Sebaliknya, media sosial berperan besar dalam membentuk selera dan tren global.

Seorang pengamat busana menilai pergeseran ini sebagai revolusi nilai dalam berpakaian.

“Fashion masa kini tidak lagi soal mengikuti tren global secara seragam, tetapi tentang keberanian menampilkan jati diri. Otentisitas menjadi nilai utama. Pakaian kini berfungsi sebagai media storytelling—menceritakan siapa pemakainya, nilai yang mereka perjuangkan, serta kepedulian terhadap lingkungan,” ujarnya.

Wastra Nusantara Kian Mendunia

Di Indonesia, tren ini membawa dampak positif bagi pengrajin daerah. Batik, tenun, dan ikat tidak lagi identik dengan busana formal yang kaku. Melalui sentuhan kreatif desainer muda, kain tradisional tersebut bertransformasi menjadi jaket bomber, celana kargo, hingga gaun pesta modern yang stylish.

Transformasi ini membuat wastra nusantara tetap relevan di tengah gempuran mode global, sekaligus memperkuat identitas budaya Indonesia di kancah fashion internasional.

Menatap Masa Depan Fashion

Saat ini, fashion menjadi ruang yang merayakan keberagaman. Tidak ada lagi standar tunggal tentang apa yang disebut keren. Selama busana mampu menumbuhkan rasa percaya diri dan memberikan dampak positif bagi lingkungan serta masyarakat, itulah esensi mode yang sesungguhnya.

Ke depan, tren mungkin terus berganti seiring musim. Namun, nilai kemanusiaan, keberlanjutan, dan kejujuran ekspresi yang tertanam dalam setiap jahitan akan menjadi warisan fashion masa kini yang bertahan lama. (Er)

Like and Share
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *