Jajaran DKPP Ngawi, Forkopimcam Paron, dan kelompok tani berfoto bersama pada kegiatan PRLB Field Day dalam rangka Hari Tani Nasional 2026 di Desa Gelung, Paron, Ngawi. (Dok.JurnalMediaNusa)
Ngawi (JurnalMediaNusa) — Peringatan Hari Tani Nasional (HTN) ke-66 di Kabupaten Ngawi menjadi momentum untuk mendorong pertanian yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga menjaga kesehatan tanah dan kelestarian lingkungan.
Peringatan HTN tersebut digelar di Desa Gelung, Kecamatan Paron, Kamis (24/9/2026). Kegiatan dihadiri Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Ngawi, Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), kelompok tani, serta masyarakat.
Kepala DKPP Kabupaten Ngawi Supardi mengajak petani memperkuat penerapan Pertanian Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PRLB). Menurutnya, peningkatan produksi harus berjalan seimbang dengan upaya menjaga kesuburan tanah agar pertanian tetap mampu menopang kehidupan petani pada masa mendatang.

“Pertanian jangan hanya kita lihat dari hasil panennya. Kita juga harus melihat bagaimana kondisi tanah dan lingkungan yang kita tinggalkan. Karena tanah ini akan terus digunakan, bukan hanya oleh kita, tetapi juga oleh generasi berikutnya,” ujar Supardi.
Untuk mendukung hal tersebut, DKPP mendorong petani mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia dan meningkatkan pemanfaatan bahan organik. Namun, Supardi menegaskan penerapan pertanian ramah lingkungan tidak berarti menghentikan penggunaan pupuk kimia secara langsung.
“Pupuk kimia tetap bisa digunakan sesuai kebutuhan. Tetapi kita ingin penggunaannya semakin bijak dan tidak berlebihan. Di sisi lain, bahan-bahan organik yang ada di sekitar kita bisa dimanfaatkan untuk membantu menjaga kesuburan tanah,” jelasnya.
Menurut Supardi, pemanfaatan bahan organik juga dapat membantu mengurangi ketergantungan petani terhadap input pertanian dari luar.
“Kalau tanah kita sehat, tanaman juga akan tumbuh dengan baik. Pada akhirnya petani yang mendapatkan manfaatnya. Jadi pertanian ramah lingkungan ini bukan hanya berbicara tentang lingkungan, tetapi juga tentang keberlanjutan usaha dan kesejahteraan petani,” imbuhnya.
Peringatan HTN di Desa Gelung juga diisi demonstrasi pemanfaatan teknologi pertanian. Salah satunya penyemprotan bahan pengendali hama menggunakan drone pertanian dengan kapasitas tangki 14 liter.
Pemanfaatan drone tersebut menunjukkan bahwa modernisasi pertanian dapat berjalan beriringan dengan konsep pertanian berkelanjutan. Teknologi membantu petani meningkatkan efektivitas dan efisiensi pekerjaan, terutama dalam penyemprotan pada areal pertanian.
Meski demikian, Supardi mengingatkan penggunaan teknologi harus diikuti penerapan bahan pertanian secara tepat dan bertanggung jawab.
“Teknologi kita gunakan untuk membantu petani agar pekerjaan lebih efektif dan efisien. Tetapi prinsip ramah lingkungan tetap menjadi perhatian. Mulai dari jenis bahan yang digunakan, dosis, sampai cara aplikasinya harus dilakukan dengan tepat,” katanya.
Supardi menilai pertanian Ngawi ke depan membutuhkan keseimbangan antara produktivitas, pemanfaatan teknologi, kesejahteraan petani, dan kelestarian lingkungan.
“Harapannya, petani kita semakin maju, produktivitas meningkat, tetapi tanah dan lingkungan tetap terjaga. Itulah yang ingin kita bangun melalui pertanian ramah lingkungan berkelanjutan,” pungkasnya.
Peringatan HTN di Desa Gelung menjadi ruang bagi pemerintah, petani, dan masyarakat untuk memperkuat komitmen terhadap pertanian berkelanjutan. Upaya tersebut diharapkan tidak hanya menjaga produksi pangan saat ini, tetapi juga mempertahankan sumber daya pertanian untuk generasi mendatang.(Adv/DKPPNgawi/Rek)











