Beranda / PEMERINTAHAN / Khofifah Salurkan Bantuan Air Bersih untuk 196 KK Terdampak Kekeringan di Ngawi

Khofifah Salurkan Bantuan Air Bersih untuk 196 KK Terdampak Kekeringan di Ngawi

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bersama Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono menyerahkan bantuan air bersih senilai Rp307.115.065 untuk penanganan kekeringan di Dusun Gagan, Desa Kenongorejo, Bringin, Ngawi, Rabu (21/10/2026). (Dok. JurnalMediaNusa)

Ngawi (JurnalMediaNusa) — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono menyalurkan bantuan air bersih dan sarana penampungan air bagi warga terdampak kekeringan di Dusun Gagan, Desa Kenongorejo, Kecamatan Bringin, Kabupaten Ngawi, Rabu (21/10/2026).

Bantuan tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar 196 kepala keluarga (KK) atau sekitar 350 jiwa yang terdampak kekeringan. Sejak Juni lalu, sumur warga mulai mengering sehingga masyarakat harus mengandalkan distribusi air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

“Air bersih merupakan kebutuhan dasar yang harus kita upayakan tetap terpenuhi. Kami ingin memastikan masyarakat terdampak mendapatkan layanan distribusi air bersih. Pada saat yang sama, langkah mitigasi harus disiapkan secara lebih komprehensif karena kemarau kali ini berlangsung lebih panjang,” ujar Khofifah.

Gubernur Jatim Khofifah dan Bupati Ngawi Ony Anwar menyalurkan air bersih ke jerigen warga terdampak kekeringan di Dusun Gagan, Desa Kenongorejo, Bringin, Ngawi, Rabu (21/10/2026). (Dok. JurnalMediaNusa)

Untuk memenuhi kebutuhan warga, pemerintah menyiapkan dua truk tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter, dua tandon, dua tandon lipat, serta 100 jeriken.

Dukungan Pemprov Jatim untuk penanganan kekeringan di Kabupaten Ngawi juga mencakup bantuan distribusi air bersih senilai Rp307.115.065, sebanyak 25 tandon berkapasitas 1.200 liter, 420 jeriken berkapasitas 15 liter, dan 200 terpal.

Berdasarkan laporan BPBD Provinsi Jawa Timur, kekeringan di Kabupaten Ngawi berdampak pada 1.624 KK atau 4.723 jiwa yang tersebar di 22 desa pada tujuh kecamatan. Wilayah terdampak meliputi Bringin, Karanganyar, Karangjati, Kasreman, Kedunggalar, Ngawi, dan Pitu.

Khofifah meminta distribusi bantuan menyesuaikan kebutuhan dan kondisi setiap wilayah. Ia juga menekankan pentingnya pemutakhiran data serta koordinasi antara BPBD provinsi, BPBD kabupaten, kecamatan, dan pemerintah desa agar bantuan menjangkau warga yang paling membutuhkan.

Selain bantuan darurat, Pemprov Jatim mendorong pencarian sumber air alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada distribusi air tangki. Khofifah meminta Dinas Sumber Daya Air meninjau potensi sumber air yang menurut informasi pemerintah kabupaten berada sekitar dua kilometer dari kawasan terdampak.

“Kalau memang ada sumber air yang relatif dekat, perlu kita cek kondisi dan potensi pemanfaatannya. Harapannya, kita tidak hanya mengandalkan distribusi bantuan, tetapi juga menyiapkan solusi yang lebih berkelanjutan dengan tetap memperhatikan kebutuhan masyarakat di sekitar sumber air,” katanya.

Secara regional, hingga 15 Oktober 2026, sebanyak 25 kabupaten/kota di Jawa Timur membutuhkan distribusi air bersih untuk penanganan kekeringan. Sebanyak 24 daerah telah menerbitkan surat keputusan kedaruratan, sedangkan distribusi air bersih telah dilaksanakan di 25 kabupaten.

Khofifah mengatakan mitigasi kekeringan perlu diperkuat karena peningkatan curah hujan diperkirakan baru terjadi pada periode Desember 2026 hingga Februari 2027. Menurut informasi BMKG yang disampaikannya, Pemprov Jatim juga menjalankan operasi modifikasi cuaca dengan mempertimbangkan kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang mendukung.

Selain langkah teknis, Pemprov Jatim mengajak masyarakat melaksanakan Salat Istisqa’ sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan. Khofifah menyebut pemerintah provinsi telah menerbitkan surat edaran untuk mendorong pelaksanaannya di berbagai lingkungan, termasuk pesantren dan organisasi kemasyarakatan Islam.

Di tengah kondisi kemarau, Khofifah juga mengingatkan masyarakat dan petugas agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ia menyampaikan bahwa jumlah titik panas atau hotspot di Jawa Timur, yang sebelumnya lebih dari 600 titik, turun menjadi 92 titik pada malam sebelum kunjungan berdasarkan data pemantauan yang disampaikannya.

Menurut Khofifah, pengendalian karhutla perlu dilakukan secara terpadu. Upaya pembasahan di kawasan rawan dapat menjadi salah satu langkah penanganan apabila kondisi memungkinkan, dengan tetap mengutamakan keselamatan petugas dan relawan.

Khofifah turut menyampaikan belasungkawa atas wafatnya lima relawan saat menangani karhutla di kawasan Bromo. Sementara itu, seorang relawan lainnya masih menjalani perawatan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya ketika keterangan tersebut disampaikan.

“Kita turut berduka atas wafatnya para relawan yang sedang menjalankan tugas kemanusiaan. Semoga mereka yang wafat mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT dan yang masih dirawat segera diberikan kesembuhan. Keselamatan dan keamanan tim relawan yang menangani karhutla harus menjadi prioritas,” ujarnya.

Bagi warga Dusun Gagan, bantuan air bersih menjadi penopang kebutuhan rumah tangga di tengah sumur yang mengering. Purwati (39), warga setempat, mengatakan bantuan air biasanya datang secara berkala setiap satu hingga dua hari.

“Semua orang mencari air, sumur pun sudah tidak ada airnya. Satu sampai dua hari biasanya selalu datang bantuan air. Alhamdulillah, matur nuwun sanget atas bantuanipun dan atas kehadiran Ibu Khofifah,” kata Purwati.

Warga lainnya, Sarmi (50), juga mengaku terbantu dengan distribusi air bersih yang selama ini diterima masyarakat.

“Semua di sini sudah habis airnya, di sumur juga sudah tidak ada air. Alhamdulillah, senang banget atas bantuan dari Ibu Khofifah. Terima kasih nggih, Bu Khofifah,” tuturnya.

Khofifah berharap bantuan tersebut dapat meringankan beban warga sekaligus memastikan kebutuhan air bersih tetap terpenuhi selama musim kemarau. Pemprov Jatim menyatakan akan terus berkoordinasi dengan Pemkab Ngawi dan pihak terkait untuk menyesuaikan penanganan dengan kebutuhan di lapangan.(Red)

Like and Share
Tag: