Petani membawa hasil panen tembakau menggunakan sepeda motor di area persawahan Kabupaten Ngawi. (Dok.JurnalMediaNusa)
Ngawi (JurnalMediaNusa) — Minat petani di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, untuk menanam tembakau meningkat pada musim tanam 2026. Selain kondisi cuaca yang mendukung, harga jual tembakau yang cukup tinggi turut mendorong petani memperluas lahan.
Data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Ngawi mencatat luas lahan tembakau tahun ini mencapai sekitar 2.000 hektare. Angka tersebut meningkat sekitar 800 hektare dibandingkan 2025 yang hanya mencapai 1.200 hektare.
Lahan tembakau itu tersebar di 14 kecamatan di Kabupaten Ngawi.
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Ngawi, Sojo, mengatakan kondisi cuaca tahun ini cukup mendukung pertumbuhan tanaman tembakau. Kondisi tersebut juga mendorong peningkatan produktivitas saat memasuki masa panen.
“Kalau tahun-tahun sebelumnya rata-rata produktivitas sekitar 1,2 sampai 1,4 ton per hektare. Tahun ini bisa mencapai 1,8 sampai 2 ton per hektare,” kata Sojo.
Selain produktivitas meningkat, petani juga mendapat kepastian pasar melalui skema kemitraan dengan perusahaan. APTI Ngawi saat ini bekerja sama dengan PT Merabu untuk menampung hasil panen tembakau petani.

Melalui kemitraan tersebut, harga tembakau rajang kering mencapai sekitar Rp50 ribu per kilogram. Sementara itu, harga tembakau di luar skema kemitraan berada di kisaran Rp40 ribu per kilogram.
Saat ini, luas lahan tembakau yang masuk dalam program kemitraan mencapai sekitar 500 hingga 600 hektare. Petani dalam program tersebut mengembangkan tembakau jenis Prancak 95.
Sojo mengatakan kemitraan membantu petani mendapatkan kepastian penyerapan hasil panen. Namun, pemasaran tetap menjadi tantangan ketika petani memasuki masa panen secara bersamaan.
“Kalau panennya bersamaan, memang cukup sulit kalau harus masuk ke pabrik secara langsung. Karena itu kami terus berkomunikasi dengan dinas terkait untuk membantu pemasaran hasil panen,” ujarnya.
Karena itu, APTI Ngawi bersama dinas terkait terus berkoordinasi untuk memperluas penyerapan hasil panen. Langkah tersebut penting agar peningkatan produksi tembakau tidak justru menekan harga di tingkat petani.
Dengan luas tanam mencapai sekitar 2.000 hektare, produktivitas hingga 2 ton per hektare, serta harga tembakau rajang kering yang mencapai Rp50 ribu per kilogram, tembakau masih menjadi salah satu komoditas pertanian yang menjanjikan bagi petani Ngawi pada 2026. (And)










