Ketua Umum PMI Jusuf Kalla melantik Pengurus PMI Jawa Timur masa bakti 2025–2030 dalam upacara resmi yang digelar di Benteng Van den Bosch, Kabupaten Ngawi. (Dok.JurnalMediaNusa)
Ngawi (JurnalMediaNusa) — Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla menegaskan bahwa kerusakan parah bangunan akibat banjir di sejumlah wilayah Sumatra dan Aceh tidak hanya disebabkan derasnya aliran air. Menurutnya, kayu-kayu gelondongan berukuran besar yang terbawa arus menjadi faktor utama yang menghancurkan rumah warga, jembatan, hingga tempat ibadah.
Jusuf Kalla menyampaikan hal tersebut saat melantik Pengurus PMI Jawa Timur masa bakti 2025–2030 sekaligus memimpin Apel Hari Relawan PMI di Benteng Van den Bosch (Benteng Pendem), Kabupaten Ngawi, Rabu (17/12/2025).
Ia menjelaskan, hantaman material kayu saat banjir menyebabkan kerusakan infrastruktur dalam skala besar sehingga fasilitas publik tidak dapat segera digunakan kembali. Kondisi ini, lanjutnya, memperlambat proses pemulihan dan aktivitas masyarakat terdampak.

“Sejak awal kejadian banjir di Sumatra dan Aceh, PMI langsung hadir untuk memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi,” ujar Jusuf Kalla yang juga mantan Wakil Presiden RI.
Namun demikian, ia menilai tantangan saat ini bergeser dari distribusi logistik ke pembersihan material sisa banjir. Tumpukan kayu dan lumpur yang belum terangkat masih menutup akses pemukiman, sehingga warga kesulitan kembali ke rumah mereka.
Oleh karena itu, PMI akan memfokuskan operasi pembersihan di wilayah terdampak banjir di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mulai Januari 2026. Proses ini diperkirakan berlangsung hingga tiga bulan, bergantung pada kondisi medan dan tingkat kerusakan di masing-masing daerah.
“PMI berharap langkah ini dapat mempercepat pemulihan pascabanjir dan membantu masyarakat kembali beraktivitas secara normal,” pungkas Jusuf Kalla. (And)










