Wasis Pambudi, pemilik usaha percetakan di Ngawi, sedang menyelesaikan desain undangan pernikahan di komputernya pada Jumat (30/1). (Dok.JurnalMediaNusa)
Ngawi (JurnalMediaNusa) — Tren pernikahan yang kian sederhana berdampak langsung pada sektor usaha jasa pernikahan di Kabupaten Ngawi. Permintaan undangan cetak dan suvenir pernikahan terus mengalami penurunan, seiring perubahan pola pernikahan masyarakat yang kini lebih efisien dan praktis.
Penurunan tersebut diakui Wasis Pambudi, pemilik usaha percetakan undangan di Ngawi. Menurutnya, jumlah pesanan saat ini tidak lagi seramai tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau dulu dalam satu musim bisa ratusan undangan, sekarang jauh berkurang. Bahkan ada bulan-bulan tertentu yang benar-benar sepi,” ujar Wasis saat ditemui JurnalMediaNusa, Jumat (30/1). Ia menambahkan, banyak pasangan memilih undangan digital atau mengurangi jumlah cetakan karena jumlah tamu yang lebih terbatas.
Kondisi serupa juga dirasakan pelaku usaha suvenir pernikahan. Putri, pengusaha suvenir asal Ngawi Kota, menyebut perubahan konsep acara pernikahan turut memengaruhi volume pesanan.
“Sekarang jarang ada pesanan dalam jumlah besar. Kalau dulu bisa ratusan hingga ribuan, sekarang rata-rata hanya puluhan,” ungkapnya.
Meski menghadapi penurunan permintaan, Putri tetap berupaya bertahan dengan menghadirkan produk yang lebih variatif dan bernilai personal. Ia menawarkan suvenir khas lokal, kemasan ramah lingkungan, serta desain khusus yang menyesuaikan tema pernikahan.
“Kami terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar. Kreativitas menjadi kunci agar usaha tetap berjalan,” katanya.
Sementara itu, Wasis menilai pelaku UMKM pernikahan tidak bisa lagi bertumpu pada pola bisnis lama. Untuk tetap kompetitif, ia mulai menawarkan paket undangan hybrid yang mengombinasikan undangan digital dan cetak, sekaligus memperluas layanan ke desain grafis dan suvenir tematik.
“Kalau tidak beradaptasi, usaha bisa tertinggal. Sekarang kami lebih fokus pada kualitas, desain eksklusif, dan layanan yang fleksibel sesuai anggaran calon pengantin,” jelasnya.
Meski tantangan semakin terasa, para pelaku usaha tetap optimistis industri kreatif pernikahan di Ngawi masih memiliki ruang tumbuh. Selama mampu membaca perubahan zaman dan kebutuhan generasi muda, peluang tersebut dinilai tetap terbuka.
“Pernikahan tetap ada, hanya caranya yang berubah. Kami harus terus menyesuaikan diri agar tetap relevan,” pungkas Wasis. (Er)










