Generasi Milenial dan Gen Z di Ngawi kini lebih memprioritaskan kemandirian finansial dan karier sebelum memutuskan untuk melangkah ke jenjang pernikahan. (Dok.JurnalMediaNusa)
Ngawi (JurnalMediaNusa) – Fenomena menunda pernikahan di kalangan generasi milenial dan Gen Z kini bukan lagi sekadar perbincangan ringan. Data resmi menunjukkan, angka pernikahan di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, terus mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: apa yang membuat generasi muda memilih menikah nanti dulu?
Berdasarkan data Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Ngawi, jumlah pernikahan pada tahun 2023 tercatat sebanyak 3.737 pasangan. Angka tersebut menurun dibandingkan tahun 2022 yang mencapai 4.090 pasangan, serta semakin jauh dari tahun 2021 dengan 4.412 pernikahan. Secara akumulatif, penurunan lebih dari 15 persen dalam tiga tahun terakhir menjadi sinyal perubahan sosial yang patut dicermati.
Tren penurunan ini tidak hanya terjadi di Ngawi. Daerah sekitar seperti Magetan dan Madiun juga menunjukkan pola serupa. Di Magetan, Kemenag setempat mencatat penurunan angka pernikahan sekitar 10–12 persen dalam periode yang sama. Sementara itu, di Madiun, penurunan tetap terjadi meski dengan persentase yang lebih rendah dibandingkan Ngawi.
Sosiolog Universitas Brawijaya Malang, Ani Susanti, menilai fenomena ini sebagai bagian dari perubahan global.
“Ini bukan persoalan lokal semata. Tekanan ekonomi, keinginan mencapai kemandirian finansial, hingga pergeseran nilai sosial membuat pernikahan tidak lagi menjadi satu-satunya indikator kebahagiaan atau kesuksesan,” ujarnya dalam sebuah podcast di radio lokal Malang.
Selain faktor ekonomi, generasi muda kini memiliki orientasi hidup yang berbeda. Pendidikan tinggi, karier yang stabil, dan kebebasan finansial kerap menjadi prioritas sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. Di sisi lain, kesadaran terhadap risiko perceraian juga membuat mereka lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan besar.
Hal tersebut diakui Reza (27), pekerja swasta asal Ngawi.
“Kami ingin memastikan semuanya benar-benar siap, bukan hanya secara emosional, tapi juga finansial. Biaya hidup terus naik, jadi lebih baik menata masa depan dulu daripada terburu-buru,” katanya.
Penurunan angka pernikahan ini berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang. Selain memengaruhi bonus demografi, tren tersebut juga dapat berdampak pada angka kelahiran serta struktur keluarga di masa mendatang. Karena itu, pemerintah dan pemangku kebijakan diharapkan mampu membaca perubahan ini secara komprehensif dan merumuskan kebijakan yang adaptif terhadap dinamika sosial generasi muda.
Apakah tren ini menandai lahirnya era “single but happy” yang kian menguat, atau sekadar fase penundaan sebelum pernikahan kembali meningkat dengan pertimbangan yang lebih matang? Waktu yang akan menjawab. Yang jelas, Ngawi kini tengah menghadapi perubahan paradigma penting dalam kehidupan berkeluarga. (Er)










